Dua kali saya datang ke Bawean. Dua kali itu saya terpesona akan keindahan alamnya, juga warganya yang bersahaja. Dua kali itu memberikan dorongan untuk saya bisa mengunjungiya hingga berkali-kali lagi. Pulau kecil yang berada kurang lebih 80 mil ke arah utara Kabupaten Gresik ini memiliki luas 194,11 kilometer persegi. Terbagi atas dua kecamatan, Kecamatan Sangkapura disebelah selatan dan Kecamatan Tambak dibagian utaranya.
Petualangan ke Bawean sudah dimulai bahkan ketika kita baru dalam perjalanan laut dari dermaga Gresik. Selama perjalanan 3 jam dengan kapal cepat perut serasa dikocok oleh guncangan ombak yang sedikit membuat tubuh terhuyung. Ini masih untung. Pada kunjungan saya yang pertama, waktu itu belum ada kapal cepat. Jadi saya harus berusaha menahan mabuk laut dengan berebah di matras-matras tipis hasil rebutan dengan penumpang lain, selama kurang lebih 8 jam!
Namun rasa pening itu seketika terbayar lunas begitu kita mendarat di pelabuhan Sangkapura. Pandangan kita disuguhkan pada barisan bebukitan yang membentuk gradasi, yang semakin dekat semakin nampak menghijau hamparannya. Di balik bukit bukit itu telah bersembunyi keunikan dan keelokan yang siap menghenyakkan rasa kagum kita dengan keindahannya, begitu kita menghampirinya.
Dan marilah memulai petualangan mengeksplorasi pulau ini. Diawali dari Danau Kastoba, yang merupakan salah satu keindahan alam dan tujuan wisata utama di Bawean. Saking populernya danau ini, dianggap belum afdol kalau datang ke Bawean belum mengunjungi danau ini. Berada di Desa Peromahan, danau ini berjarak sekitar 5 kilometer ke arah timur dari pusat Kecamatan Tambak.
Menuju danau, selama perjalanan mata kita disegarkan oleh lebatnya hijau pohon. Udara segar turut pula terhirup. Untuk yang hobi trekking, akan menyukai jalanan menanjak sekitar 30 derajat ini. Yang suka jalan santai pun akan terbuai dengan suasana alami yang ada. Ditengah hijaunya dedaunan dari pohon-pohon raksasa yang telah berusia ratusan tahun, terlihat serta rumah-rumah dibalik bukit seberang yg menggerombol menjadi sebuah perkampungan kecil. Sungguh pemandangan alam yang luar biasa. membuat perjalanan kaki sekitar 30 menitan itu tidak terasa melelahkan. Hingga kita sampai di tanjakan terakhir, dimana kesejukan air telaga yang tenang telah menanti.
Tiba di danau, ada juga pantangan yang tidak boleh dilanggar. Jangan mengambil bebatuan yang ada di sekitar danau, karena diyakini setiap benda ada penunggunya. Ini pula yang menyebabkan warga membiarkan saja pepohonan yang roboh hingga masuk ke perairan di pinggir danau. Namun tidak mengapa, robohan pohon yang sudah menahun dibiarkan itu malah menambah keunikan instalasi alam di danau ini. Keunikan lain yang ada di danau ini adalah warna danau yang sering kali berubah. Dari hijau di musim penghujan, hingga menjadi kuning kemilau seperti berminyak di saat kemarau tiba. Warna airnya juga bisa berubah jadi merah kalau ada wanita yang pada masa haid mandi di danau ini.




(...petualangan mengeksplorasi bawean baru saja di mulai)
Kamis 03 April 2008
long road to bawean
Sabtu 15 Maret 2008
nidji to top up

saya harus membuka kalimat dengan menghubungkan nidji dengan coldplay. dan saya tidak perlu meminta maaf untuk itu, walaupun banyak yang menganggap pernyataan tersebut basi. walaupun penggemar nidji tidak akan suka band kecintaannya dihubungkan, yang sekaligus otomatis mencap nidji meniru gaya band british tersebut. walaupun penggemar coldplay tidak akan terima bandnya disamakan dengan band indonesia yang sedang (berambisi) menuju puncak, sebagaimana judul album barunya.
karena memang begitulah adanya: masukan terbesar terhadap musik nidji adalah coldplay. terdengar muse, juga the cure di sana-sini, tapi tetap coldplay yang mendominasi. vokal falsetto diiringi dentingan suara piano yang perlahan menuju klimaks bersamaan melodi gitar dan hentakan drum itu. juga ketika beraksi di atas panggung. tidak bisa tidak mata kita seolah menangkap sosok tak nampak chris martin dalam diri giring ganesha, lincah dengan kadar hiperaktif yang hampir menyerupai anak kecil dengan mainan baru. lihatlah betapa bahagianya giring memainkan lampu polisi pengatur lalulintas, sebahagia chris martin memutar-mutar lampu hohlam diatas panggung dalam fix you.
dan giring cs juga tidak perlu meminta maaf untuk itu. bukankah hari gini originalitas sudah menjadi komoditi yang langka. bukan berarti tidak kreatif. menjadi sah hukumnya kalau bisa menghasilkan sesuatu yang bagus terinspirasi dari sesuatu yang bagus pula.
maka tidak membuat saya heran ketika dalam konser itu ada teman fotografer yang tiba-tiba menjauhkan matanya, dari yang semula menempel di jendela bidik kameranya. berteriak ''coldplay banget.....'' kepada saya yang ada persis disebelahnya, dengan suara yang tidak lirih, berusaha menyeimbangi gelegar suara dari panggung. lalu malah menggantungkan kameranya di leher, membiarkan momen di atas panggung berlalu. demi ikut mengiringi giring bernyanyi. karena aksi nidji memang layak disimak tidak hanya didengarkan sambil lalu...




Rabu 06 Februari 2008
sebuah kisah klasik untuk masa depan
sekedar mengabadikan sebuah kisah yang akan menjadi klasik di masa depan.
maka ketika ada peradaban lain siap menghancurkannya, sebuah kisah pernah mencatatnya sebagai sejarah peradaban manusia.
sebuah peradaban tingkat tinggi yang menjadikan semerbak semarak seisi

pintu air jagir

jembatan pipo wonokromo

taman prestasi
(masih berlanjut untuk mengabadikan peradaban kota lainnya....)





