Selasa 27 Januari 2009

pelangi tahun baru

mereka yang memberi warna di perayaan imlek



Dikenal sebagai dalang wayang potehi, Sukar Mudjiono (48) tidak mendalang pada hari pertama tahun baru china. "Biasanya potehi ramai dimainkan pada saat menjelang perayaan tahun baru. Pas tahun baru umat lebih khusuk di klenteng untuk bersembahyang". Sebagai gantinya, dia tetap menjaga agar Klenteng Dukuh tetap meriah. Bersama pemain lain yang tergabung dalam kelompok Lima Merpati Kampung Dukuh, Dia memainkan musik tradisional china, lengkap seperti yang biasa mengiringi pertunjukan potehi. Ada seruling, simbal, orho (rebab), sanshien (sitar) serta dongko (tambur), yang semuanya dimainkan oleh orang yang tidak ikut merayakan imlek



Sehari-hari, Lenny (21) bekerja di toko alat-alat listrik. Karena ketertarikannya pada barongsai, sekitar 4 tahun yang lalu dia bergabung dengan yayasan Sumber Mulia di Kalisari, untuk bergabung sebagai pemain musik pengiring pertunjukan. Alat yang biasa Dia mainkan adalah tambur (genderang) atau kecer (simbal). Menjadi anggota wanita satu-satunya, Dia sudah keliling Jawa Timur bersama grup barongsai-nya. Menjelang dan pada saat tahun baru imlek, dalam sehari kelompoknya bisa tampil hingga lima kali di tempat yang berbeda.



Sudah 6 bulan Prasetyo (22) meninggalkan kampungnya di Malang, diajak ketua Yayasan Klenteng Cokro membantu merawat dan menjaga kebersihan klenteng. Bersama kelima rekan, yang semuanya muslim dan bukan warga keturunan, Prasetyo bertugas mengelap patung dewa-dewa, menjaga nyala lilin, serta membersihkan sisa-sisa hio di altar pemujaan. Tiap bulan dia mendapat gaji empat ratus ribu. "Pada tanggal-tanggal sembahyangan, termasuk tahun baru, klenteng ramai pengunjung. Banyak yang memberi angpau". Lumayan...



Kamis 18 Desember 2008

Tak Sekuno Alas Kakimu



Walaupun alas kaki yang dijual termasuk barang kuno, namun tidak berlaku demikian untuk penjualnya. Tak mau ketinggalan jaman, teknologi informasi dimanfaatkannya untuk kebutuhan berkomunikasi dengan keluarga di kampung.

Masduki (42) telah sekitar 10 tahun berjualan klompen (sandal dari kayu) di Pabean. Pria asal Jombang ini meneruskan usaha bapak dan kakeknya yang telah lama berjualan klompen di kawasan tua, utara kota Surabaya. Ketika ditanya sejak kapan tradisi keluarga membuat sekaligus menjual klompen dimulai, dia hanya bisa mengira. "Mungkin sudah sekuno bangunan yang ada di kawasan Pabean ini"

Kamis 06 November 2008

hono-o-daiko: dewi genderang perang



taiko dalam bahasa jepang berarti drum besar. dulu, taiko sering digunakan untuk memotivasi pasukan, menolong menentukan langkah barisan, dan mengatur perintah. atau untuk aba-aba sebelum dibacakan pengumuman. secara tradisional, genderang ini sebagian besar ditabuh oleh pria, dengan sedikit penabuh wanita untuk taiko kecil yang menghasilkan suara lebih lembut.

hono-o-daiko adalah kelompok penabuh taiko yang ketiga anggotanya wanita. dimulai pada tahun 1986, grup ini lahir dari keinginan seorang wanita untuk bisa memainkan taiko besar yang mampu menghasilkan bunyi keras. sekaligus mematahkan pendapat yang selama ini berkembang di jepang, bahwa hanya golongan pria yang bisa memainkan taiko besar. dibutuhkan kombinasi kekuatan fisik, mental dan spiritual, serta sense musik yang bagus untuk bisa memainkannya.

hono memiliki arti lidah api yang menyala-nyala. menggambarkan semangat anggotanya yang berkobar, dan tetap bisa menjaga stamina dari awal hingga akhir penampilan mereka. tak kurang dari rusia, mongolia, senegal, prancis, kuba, dominika, amerika, dan inggris pernah mereka singgahi. kini, sebagai penanda 50 tahun hubungan diplomatis indonesia-jepang, ketiga wanita perkasa ini singgah di surabaya, menularkan kobaran semangat perang, sebagai awal rangkain tur mereka di indonesia.