11.10.10

dupa

(dari parade budaya jawa timur 10.10.10)


14.11.09

gapai mimpi abdi nagari



abdi negara masih menjadi tawaran yang diminati warga. banyak yang menggantungkan mipinya di sana.semoga kesejahteraan yang terjanji, diimbangi semangat melayani sepenuh hati…













26.10.09

bukan pengantin baru


Tepuk tangan dan sorai gembira menggema di Makam Rangkah, mengikuti teriakan “sah !!!” dari Pak Modin. Tamu undagan yang sedari tadi menyimak, turut pula bersorak antusias. Sesaat tadi baru saja terucap ijab kabul dari Marsam untuk menikahi Masirah. Ada yang tidak biasa dalam akad nikah ini: mempelai pria berusia 92 tahun, dan 80 tahun untuk pasangannya.


Minggu siang itu ada hajatan besar. Dalam suasana sederhana, digelar nikah massal. Bersama Marsam-Masirah, turut pula 20 pasangan yang semuanya adalah warga penghuni Makam Rangkah. Banyak diantra pasangan itu yang telah memiliki anak. Mereka sebenarnya sudah lama menikah sirri.

Kini, satu persatu mereka kembali mengucapkan ijab-kabul. Mengikuti panduan Pak Modin, dengan terbata-bata berikrar untuk mendapatkah pengakuan sah di hadapan hukum. Demi selembar akta nikah resmi dari pemerintah.


digelar di pekarangan, diharapkan semua ‘warga’ makam rangkah turut merestui




warga dengan sabar menyaksikan satu-persatu pasangan mengucap ijab-kabul



tamu undangan menikmati hidangan di lokasi pesta


mempelai lelaki kembali mengucap ijab
kabul mengikuti panduan dari pak modin



mas kawin sebagai syarat syahnya nikah berupa alat sholat + uang tunai Rp. 100.000


usai mengucap ijab-kabul, pasangan tertua dalam nikah massal ini dituntun utuk turun dari kuade


Marsam (92) dan Masirah (80) di rumah petak tempat tinggal mereka



setelah menikah sirri pada 1953, baru sekarang pasangan ini memiliki akte nikah resmi dari pemerintah

14.8.09

Mencicipi Surga Petualang Rasa



Katanya, Indonesia ini surga makanan, saking kayanya jenis makanan dengan cita rasa yg berbeda di tiap daerahnya. Dan alangkah berdosanya kalau kita tidak turut menjaga warisan pusaka kuliner itu. Untungnya, posisi saya yang sebagai perewangan dari si jago makan, sering diajak menjelajah rasa. Jadi paling tidak saya sedikit urun rembug dalam pelestarian kuliner nusantara, walaupun tahapannya masih di level penikmat saja.

Dan dalam rangka menjaga tradisi warisan kuliner ini pula, tiap tahun kecap bango mengadakan festival jajanan bango (FJB). Tahun ini adalah tahun ke empat FJB di Surabaya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, juara-juara rasa yang sudah melegenda dipertemukan di satu tempat. Seolah membuatkan surga kecil untuk para petualang rasa yang tetap setia dengan citarasa nusantara.

FJB menghadirkan warung-warung yang telah menjadi favorit warga kota di Surabaya. Semuanya pilihan. Dari yang menggunakan bahan baku pilihan, cara memasak yang otentik, atau yang penyajiannya tradisional. Semua disajikan dengan sepenuh hati, menghasilkan kelezatan istimewa. Ada pula duta rasa dari luar Surabaya. Bandung mengirimkan kupat tahu gempol, Tegal dengan nasi lengko, Semarang memberikan mandatnya kepada Tahu bakso. Sementara dari Jogja ada brongkos daging, timlo dari Solo, sate pejompongan dari Jakarta, serta utusan dari Medan diwakili oleh tahu goreng sei putih. Jadi para petualang bisa menjelajah rasa tanpa harus jauh-jauh ke tempat asalnya. Kurang apa? Benar-benar nikmat bukan?

Yang belum sempat datang dan mencicipi, boleh iri sambil menunggu surga itu kembali. Karena dari bango sudah menyanggupi, untuk tahun depan datang lagi. Dan saya yang beruntung turut mencicipi, lebih lengkap rasanya kalau membagi kisahnya disini. Selamat menikmati... Dengan sepenuh hati...


Surya Saputra yang menjadi pemandu dalam acara ini, dengan sepenuh hati melayani penjelajah rasa yang tak ingin ketinggalan mengabadikan moment membahagiakan bertemu idola.



satu hal baru yang ditawarkan dalam festival jajanan bango tahun ini: ada rujak bango yang dibagikan gratis. penjelajah rasa pun antusias ambil posisi mengantri begitu panitia menyilahkan. dan tak butuh banyak kata, 2000 porsi langsung ludes tanpa menunggu waktu lama.



kecap bango mengenalkan jajanan sederhana yang semua orang juga bisa membuat, dengan rasa tetap mantap. rujak bango: berupa irisan buah-buah segar, dicocol ke kecap bango yang telah dicampur cabe pedas. nampak seorang penjelajah rasa keasikan menikmati sendiri rujak bango.



dengan sepenuh hati, penjaga stand nasi bok malang memasukkan kecap bango kedalam botol isi ulang, lalu siap melayani hasrat para petualang rasa.



es dawet dan sate telur puyuh cukup pantas untuk menjadi menu pembuka, sambil berkeliling memburu makanan yang lebih berat.



paduan bahan sempurna dan teknik memasak dengan sepenuh hati, menghasilkan cita rasa yang sempurna. tetap tersenyum tulus di depan petualang rasa yang mengajak berfoto juga bagian dari pelayanan sepenuh hati.



surabaya gudangnya nasi bebek. tapi kalau sate bebek, tergolong baru di kota ini. tak heran stand sate dan tongseng bebek tiktok dari sidoarjo dikerubuti petualang rasa yang penasaran ingin mencoba.



festival ini memang untuk semua anggota keluarga. tua muda pria wanita semua diundang untuk ambil bagian dalam melestarikan warisan kuliner nusantara. seorang anak dalam pangkuan bapaknya ingin turut mencicipi jajanan yang dipesan bapaknya.



duta bango tahun ini antara lain dari tegal dan bandung. sama-sama berbahan dasar dari tahu. bedanya, kupat tahu gempol (bawah) menggunakan campuran kacang dalam bumbunya sepeti bumbu siomay, sementara nasi lengko dari tegal (atas) terasa segar dengan irisan daun seledri. sama-sama enak dan patut dicoba.



benar-benar hari yang sibuk. sementara bapak sibuk dengan urusannya. si kecil tak mau ketinggalan bagian, sibuk dengan urusan menghabiskan es krim bagiannya.



semua sudah puas. hidangan yg dihasilkan dengan sepenuh hati, akan terasa lebih nikmat disantap. sekarang waktunya bersih-bersih. dan harus sepenuh hati pula, untuk lingkungan kita lebih bersih.

27.1.09

pelangi tahun baru

mereka yang memberi warna di perayaan imlek



Dikenal sebagai dalang wayang potehi, Sukar Mudjiono (48) tidak mendalang pada hari pertama tahun baru china. "Biasanya potehi ramai dimainkan pada saat menjelang perayaan tahun baru. Pas tahun baru umat lebih khusuk di klenteng untuk bersembahyang". Sebagai gantinya, dia tetap menjaga agar Klenteng Dukuh tetap meriah. Bersama pemain lain yang tergabung dalam kelompok Lima Merpati Kampung Dukuh, Dia memainkan musik tradisional china, lengkap seperti yang biasa mengiringi pertunjukan potehi. Ada seruling, simbal, orho (rebab), sanshien (sitar) serta dongko (tambur), yang semuanya dimainkan oleh orang yang tidak ikut merayakan imlek



Sehari-hari, Lenny (21) bekerja di toko alat-alat listrik. Karena ketertarikannya pada barongsai, sekitar 4 tahun yang lalu dia bergabung dengan yayasan Sumber Mulia di Kalisari, untuk bergabung sebagai pemain musik pengiring pertunjukan. Alat yang biasa Dia mainkan adalah tambur (genderang) atau kecer (simbal). Menjadi anggota wanita satu-satunya, Dia sudah keliling Jawa Timur bersama grup barongsai-nya. Menjelang dan pada saat tahun baru imlek, dalam sehari kelompoknya bisa tampil hingga lima kali di tempat yang berbeda.



Sudah 6 bulan Prasetyo (22) meninggalkan kampungnya di Malang, diajak ketua Yayasan Klenteng Cokro membantu merawat dan menjaga kebersihan klenteng. Bersama kelima rekan, yang semuanya muslim dan bukan warga keturunan, Prasetyo bertugas mengelap patung dewa-dewa, menjaga nyala lilin, serta membersihkan sisa-sisa hio di altar pemujaan. Tiap bulan dia mendapat gaji empat ratus ribu. "Pada tanggal-tanggal sembahyangan, termasuk tahun baru, klenteng ramai pengunjung. Banyak yang memberi angpau". Lumayan...