18.12.08

Tak Sekuno Alas Kakimu



Walaupun alas kaki yang dijual termasuk barang kuno, namun tidak berlaku demikian untuk penjualnya. Tak mau ketinggalan jaman, teknologi informasi dimanfaatkannya untuk kebutuhan berkomunikasi dengan keluarga di kampung.

Masduki (42) telah sekitar 10 tahun berjualan klompen (sandal dari kayu) di Pabean. Pria asal Jombang ini meneruskan usaha bapak dan kakeknya yang telah lama berjualan klompen di kawasan tua, utara kota Surabaya. Ketika ditanya sejak kapan tradisi keluarga membuat sekaligus menjual klompen dimulai, dia hanya bisa mengira. "Mungkin sudah sekuno bangunan yang ada di kawasan Pabean ini"

6 komentar:

DenaDena mengatakan...

tukuo siji di nggo nang kantor. lho?? btw kowe kok jik iso ngeblog?

fahmi! mengatakan...

eh, moto2 klompen ndek nggubah loo... (ndek njerone kampung ampel, ampel suci). klompene disusun apik2, jejer ambek tasbih/minyak wangi. fotone apik deh ndek situ ;)

Cempluk mengatakan...

sudah saatnya la mas, bangsa kita maju.spt penjual klompen itu telah mengikuti perkembangan tren IT shn patut diacungi jempol..hehehe

hardian mengatakan...

mas...
bagus and natural abiss.tapi kok kayake ada yang bikin kurang hidup...
mungkin pantulan sinar matahari yang ada di sandal paling kiri bawah itu kali ya...
akhirnya merusak warna sandal lainnya hehehe...(sok tahu)
SALAM KENAL om...

lamendol mengatakan...

fotone ok. kamu beli klompena nggak , ton ? ojok moto tok, mesakno.

Kang Eko mengatakan...

sing apik kuwi klompene opo potone yo ?....